×
Lestarikan Bahasa Besemah Sebagai Identitas Budaya

Pagar Alam – Bahasa bukan hanya sekadar alat untuk berkomunikasi, tetapi juga menjadi representasi budaya dan identitas penuturnya. Melalui bahasa, berbagai nilai, tradisi, dan pengetahuan diwariskan dari generasi ke generasi lainnya. Keberagaman inilah yang membuat dunia dipenuhi oleh warna budaya dan masyarakat yang multikultural.


Bahasa Besemah

Bahasa Besemah dipergunakan oleh masyarakat di sekitar Gunung Dempo, yakni Kota Pagar Alam, Kabupaten Lahat, dan beberapa daerah sekitarnya. Bahasa Besemah memiliki nada 'e' pepet (/ə/) mirip dengan Melayu di Semenanjung Malaya, dan memiliki logat yang khas. Kata-kata umum dengan akhiran (/ə/) contohnya: “ke mane” (ke mana), “siape” (siapa), “ngape” (mengapa).

Bahasa Besemah ini juga memiliki aksara tulisnya tersendiri, yang dikenal dengan Surat Ulu atau Urup Ulu, karena berkembang di daerah pedalaman atau wilayah ulu. Menariknya, aksara ini juga sering disebut Surat Ghincung. Kata “Ghincung” berarti miring, karena setiap bentuk tulisannya memiliki garis miring ke kanan. Aksara Base Besemah ini banyak ditemukan pada naskah-naskah lama yang ditulis pada media tradisional, seperti kulit kayu dan bambu. 



Pentingnya Melestarikan Bahasa Daerah

Badan Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang bergerak di bidang pendidikan, sains, dan kebudayaan, UNESCO menyampaikan kabar buruk bahwa banyak bahasa kini berada dalam ancaman kepunahan. Menurut data UNESCO (2024), sekitar 40% dari 7.000 bahasa yang digunakan di seluruh dunia berisiko punah. Bahkan, rata-rata satu bahasa menghilang setiap dua minggu. Padahal, hilangnya satu bahasa akan ikut menghilangkan warisan budaya suatu masyarakat.

Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk terus menjaga dan melestarikan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya, seperti Bahasa Besemah atau Base Base Besemah yang dimiliki oleh Suku Besemah. Caranya bagaimana? Yakni dengan mengenal, terus mempelajari, serta bangga menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari penuturnya. Hal ini sejalan dengan semboyan Trigatra Bangun Bahasa: “Utamakan Bahasa Indonesia, Kuasai Bahasa Asing, Lestarikan Bahasa Daerah.

Ayo berwisata ke Kota Pagar Alam!


📲 Follow akun resmi kami agar tidak ketinggalan informasi penting lainnya!

Instagram dan TikTok: @pagaralamtourism.


Referensi:

Ernatip et al. (2007). Budaya Suku Pasemah di Sumatera Selatan. Padang: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Padang.

Mahdi, S. (2012). Bahasa Besemah. Sumedang: Uvula Press Fakultas Sastra Universitas Padjajaran.

Mahdi, S. & Dewi, S. (2014). Aksara Base Besemah: Pelajaghan mbace ngai nulis urup ulu (surat ghincung). Sumedang: Unpad Press.

UNESCO. (2024). Multilingual education: The bet to preserve indigenous languages and justice. UNESCO. https://www.unesco.org/en/articles/multilingual-education-bet-preserve-indigenous-languages-and-justice